![]() |
||||||||||||||
|
||||||||||||||
| Semua File lagu VoiceKids hanya koleksi pribadi saja ,© 2007 Nabilla ra |
/******************************************
* Snow Effect Script- By Altan d.o.o. (http://www.altan.hr/snow/index.html)
* Visit Dynamic Drive DHTML code library (http://www.dynamicdrive.com/) for full source code
* Last updated Nov 9th, 05′ by DD. This notice must stay intact for use
******************************************/
//Configure below to change URL path to the snow image
var snowsrc=”http://i66.photobucket.com/albums/h259/nabilla-ra/music-gold-large.png”
// Configure below to change number of snow to render
var no = 14;
// Configure whether snow should disappear after x seconds (0=never):
var hidesnowtime = 0;
// Configure how much snow should drop down before fading (“windowheight” or “pageheight”)
var snowdistance = “pageheight”;
///////////Stop Config//////////////////////////////////
var ie4up = (document.all) ? 1 : 0;
var ns6up = (document.getElementById&&!document.all) ? 1 : 0;
function iecompattest(){
return (document.compatMode && document.compatMode!=”BackCompat”)? document.documentElement : document.body
}
var dx, xp, yp; // coordinate and position variables
var am, stx, sty; // amplitude and step variables
var i, doc_width = 800, doc_height = 600;
if (ns6up) {
doc_width = self.innerWidth;
doc_height = self.innerHeight;
} else if (ie4up) {
doc_width = iecompattest().clientWidth;
doc_height = iecompattest().clientHeight;
}
dx = new Array();
xp = new Array();
yp = new Array();
am = new Array();
stx = new Array();
sty = new Array();
snowsrc=(snowsrc.indexOf(“dynamicdrive.com”)!=-1)? “snow.gif” : snowsrc
for (i = 0; i < no; ++ i) {
dx[i] = 0; // set coordinate variables
xp[i] = Math.random()*(doc_width-50); // set position variables
yp[i] = Math.random()*doc_height;
am[i] = Math.random()*20; // set amplitude variables
stx[i] = 0.02 + Math.random()/10; // set step variables
sty[i] = 0.7 + Math.random(); // set step variables
if (ie4up||ns6up) {
if (i == 0) {
document.write(“<div id=\”dot”+ i +”\” style=\”POSITION: absolute; Z-INDEX: “+ i +”; VISIBILITY: visible; TOP: 15px; LEFT: 15px;\”><a href=\”http://dynamicdrive.com\”><img src=’”+snowsrc+”‘ border=\”0\”><\/a><\/div>”);
} else {
document.write(“<div id=\”dot”+ i +”\” style=\”POSITION: absolute; Z-INDEX: “+ i +”; VISIBILITY: visible; TOP: 15px; LEFT: 15px;\”><img src=’”+snowsrc+”‘ border=\”0\”><\/div>”);
}
}
}
function snowIE_NS6() { // IE and NS6 main animation function
doc_width = ns6up?window.innerWidth-10 : iecompattest().clientWidth-10;
doc_height=(window.innerHeight && snowdistance==”windowheight”)? window.innerHeight : (ie4up && snowdistance==”windowheight”)? iecompattest().clientHeight : (ie4up && !window.opera && snowdistance==”pageheight”)? iecompattest().scrollHeight : iecompattest().offsetHeight;
for (i = 0; i < no; ++ i) { // iterate for every dot
yp[i] += sty[i];
if (yp[i] > doc_height-50) {
xp[i] = Math.random()*(doc_width-am[i]-30);
yp[i] = 0;
stx[i] = 0.02 + Math.random()/10;
sty[i] = 0.7 + Math.random();
}
dx[i] += stx[i];
document.getElementById(“dot”+i).style.top=yp[i]+”px”;
document.getElementById(“dot”+i).style.left=xp[i] + am[i]*Math.sin(dx[i])+”px”;
}
snowtimer=setTimeout(“snowIE_NS6()”, 10);
}
function hidesnow(){
if (window.snowtimer) clearTimeout(snowtimer)
for (i=0; i<no; i++) document.getElementById(“dot”+i).style.visibility=”hidden”
}
if (ie4up||ns6up){
snowIE_NS6();
if (hidesnowtime>0)
setTimeout(“hidesnow()”, hidesnowtime*1000)
}













_uacct = “UA-1525301-1″;
urchinTracker();


Calysta Dhinda Oktarasya
Fia subroto
Hadziq Umar Azka Mirza
Ida Syafyan
Kalya Khairanaya Ferdanu
Keira Adzra Athayya
Muh. Zaki Athaullah
Muhammad Raul
Nabila Hasna Karimah
Nabilla Rizka Aulia
Raditya
Raihan
Rayga
Susi kurniawati
Valdisya Azzahra Apkamadi
Vera Delina
Zaza
Arya
Aditya Randika
Amma mutia
Andi Bagus
Az & fa
Budi sutomo SPd
Deasy RoSalina
DIah
Dinda lusiana hani
Enji Magetsari
Etna L ramadhani
Ida Latifa Hanum
iRene inDah
Leni
Lita Uditomo
Mae astee
Nana
Netta
Nisi P
Rahmat delakeke
Ramadhony Pramono
Ranny
Wewin
Windy Suciyanti
zawa
Dian Octa
11 Januari, 2008 di 11:06 am Hahahahahaha,
Saya sepakat dg Bung Robert. Penggunaan bahasa pada masa rezim Orba sdh demikian jauhnya tereduksi oleh hegemoni kekuasaan. Di tengah masyarakat paternalistis semacam itu, payahnya, para pejabat di bawahnya justru melakukan bentuk “penghormatan” kepada atasan dg gaya bahasa imitasi, meniru2, baik itu dalam bentuk eufemisme maupun gejlasa krasis yang lain. Pengaruh rezim Orba pun tampaknya masih kuat di tingkat kelembagaan hingga sekarang. Bahkan, menurut rencana Pusat Bahasa akan segera meluncurkan UU Bahasa yang akan melakukan kontrol terhadap pemakaian bahasa di sektor publik, pers, dan dunia usaha (utk yang terakhir saya kira tak masalah). Agaknya ini tetep menarik utk didiskusikan Bung Robert.
11 Januari, 2008 di 12:32 pm tiba tiba ephoria KEBEBASAN membuat kita menjadi bingung, hendak kemana ?
apakah ini yang kita cari ?
RM: Kayaknya yang salah bukan euphoria kebebasan, tapi perilaku ekstrim dan anarki.
Yang kita cari adalah kebebasan dalam koridor moral dan hukum. Salam!
11 Januari, 2008 di 1:48 pm @ Sawali Tuhusetya
PERTAMAX
Bung Sawali berhak menuliskan kata di atas, jika mengikuti trend di dunia blog Indonesia.
Maaf, bukannya aku tidak punya rasa humor sehingga mengecam kebiasaan baru di blogsphere kita, yaitu menggunakan istilah-istilah yang sifatnya melucu seperti wakaka dan “halah”. Malah sebaliknya aku yakin betul bahwa refreshing yang mungkin bisa kita pungut dari komunikasi di dunia blog adalah rahmat tersendiri, ketika Indonesia tercinta ini serba memusingkan.
Bisa kuterima penjelasan Bung Sawali, bahwa penggunaan ‘halah’ untuk menjalin keluwesan dan komunikatif saja. Kalau masih proporsional, malah bisa jadi pemanis juga kata ‘halah’ itu atau bentuk rendah hati supaya jangan terkesan arogan.
Tapi perlukah kita menurunkan bobot keseriusan tulisan atau analisis kita mengenai hal yang memang perlu serius? Apa ini bukan bentuk kurang percaya diri, sehingga sebuah pemikiran yang bagus perlu diturunkan standarnya supaya jangan terkesan terlalu serius? Apa itu bukan bentuk meremehkan kecerdasan atau kesungguhan orang lain juga ?
Intinya : apakah dunia blog Indonesia memang harus seperti yang kini menjadi trend ? Pertanyaan ini aku ajukan kepada orang-orang yang aku yakini motivasinya ngeblog memang serius dan mungkin tadinya ada semacam misi.
Aku tidak menyalahkan para blogger yang dari semula niatnya memang cuma kepingin bermain-main di dunia blog ini karena itu sah-sah saja.
Di sisi lain, jika keadaan yang sekarang ini harus kita maklumi sebagai proses sebelum datangnya kedewasaan, mana mungkin terjadi jika penulis dan pemikir serius malah ikut arus besar yang senangnya main pertamax sampai quatrick itu ?
Oh ya, aku sependapat dengan Bung Sawali, penyalahgunaan bahasa menjadi instrumen kekuasaan memang tetap aktual dan menarik didiskusikan. Terima kasih untuk umpan balik yang pak Sawali berikan.
Salam
11 Januari, 2008 di 4:39 pm huhuhu saya sedikit ketakutan membaca blog ini dan cara penulis menanggapi komentar
bahkan saya sudah sedikit menyesal telah menancapkan kaki pada pondasi dasar dan mengucapkan sumpah pemuda segala.
tapi toh akhirnya saya harus melawan rasa takut saya itu kan? melawan ketakutan saya yang berperan sebagai penjajah. karna saya tau ketakutan selalu timbul dari keadaan ketidak tahuan.
kalau soekarno yang selama ini saya ketahui cuma seorang sosok pemimpin yang memimpin dengan penuh kharismatik. tapi kemudia hal itu hanya benar2 sampai di situ. bahkan beberapa pengalaman sejarah yang saya tangkap malah sang maesro malah siap mengorbankan kepentingan orang banyak hanya demi idealisme dan kharisma. beberapa langkah politiknya seperti “mercu suar” “ganyang malaysia” “nasakom” adalah bukti pelajaran yang tidak saya sukai darinya.
soeharto yang saya kenal lewat pelajaran politik saya yang sangat2 minim adalah sosok yang sangat ahli dalam bidang strategis. mampu menyetir sebuah bangsa selama kurun waktu yang saya rasa sangat spektakuler itu telah mampu membuat saya terkagum-kagum dengan kecerdasan memimpinnya. seorang pemimpin yang sangat2 pintar menutupi kebusukannya dengan tampang polos sahabat orang kecil dengan menggerakan orang2 besar bersenjata di belakang layar. benar2 di belakang layar karna layar yang ada akan di bumi hanguskan jika sedikit saja tidak mau menjilat.
saya tidak begitu suka dengan tentara dan militerisme. cuma karna alasan saya sangat tidak menyukai kekerasan. tokoh kemerdekaan idola saya adalah Boedi utomo dengan gagasannya *mendirikan perkumpulan yang nantinya dapat menyatukan berbagai suku bangsa di nusantara waktu itu untuk bersedia memikirkan serta berusaha memperbaiki nasib bangsa. perkumpulan yang bersifat ekslusif tapi terbuka untuk terbuka untuk siapa saja tanpa melihat kedudukan, kekayaan, atau pendidikannya. *sumber comment mbah wiki.
melihat apa yang dikatakan ternyata tidak seangker seperti kata2 yang di ucapkan. huhuhuhu
11 Januari, 2008 di 8:17 pm Membaca postingan Abang ini masih adakah kata maaf buat Soeharto?!
terbelenggu dan terkotak-kotak sehingga tidak ada Apresiasi kita buat penulis, budayawan, seniman pada masa itu.
Beberapa peristiwa masih kita ingat pembredelan beberapa Majalah, Surat Kabar yang sedikit saja bersebrangan, pelarangan bicara kebenaran di depan umum sebut saja tokoh-tokoh petisi 50,Mantan ketua HMI Toni Ardi, AM Fatwa, bahkan sampai Bung Tomo.
Terakhir yang paling menggelikan (setidaknya menurut saya) dilarangnya penggunaan nama-nama berbau asing seperti Mall menjadi mal, Taxi menjadi Taksi dan banyak lagi.
Masih ingat pelarangan lagu-lagu melankolis yang disebut cengeng.
Semua itu cocok benar dengan postingan Abang.
MERDEKA
11 Januari, 2008 di 8:44 pm “congratulation,!!”,blog baru semoga membawa visi dan semangat baru.
mudah-mudahan kedepannya ada postingan yg “ringan” dan “renyah” sekedar untuk meneduhkan orang-orang yg masih terjajah.
salam hormat dari anakmu.
12 Januari, 2008 di 2:48 am @ bedh
Komentarmu memberiku inspirasi : musuh utama kita kalau mau merdeka adalah rasa takut. Itu yang membuat bangsa kita dijajah terus-menerus, oleh Belanda (350 tahun), Jepang (3,5 tahun), Demokrasi Terpimpin (?), Orde Baru (32 tahun) dan sekarang oleh korporasi multinasional beserta para kompradornya.
Terima kasih, bedh. Tetaplah semangat kawan.
12 Januari, 2008 di 2:54 am @ Mas hadi arr
Memang ada yang bilang bangsa kita menderita amnesia sejarah yang akut. Tapi aku yakin, siapapun yang peduli pada nasib bangsa ini tak mungkin lupa penjajahan atas nama stabilitas nasional yang dilakukan rezim Soeharto.
Salam.
12 Januari, 2008 di 3:00 am @ anton saragih
Terima kasih, Anton. Bagaimana keadaanmu di Jepang sana ?
13 Januari, 2008 di 12:09 pm saya masih ada dalam ketakutan, dan saya belum merdeka … gabung bang …
13 Januari, 2008 di 6:30 pm @ abah oryza
selamat bergabung kawan. Mari kita berbagi pengalaman dan pengetahuan, serta saling mendukung, agar kemerdekaan kita sebagai warga negara dapat kita proklamasikan segera.
Aku serius soal ini : kemerdekaan manusia Indonesia harus diproklamasikan, sebab ternyata kemerdekaan kita sebagai bangsa dan negara tidak otomatis menjamin kemerdekaan individu; malahan dalam banyak kasus justru negaralah yang menjadi penjajah atau penindas terhadap warganya sendiri.
Merdeka!
14 Januari, 2008 di 4:47 am Saya pikir Anda Robert Manurung dari ITB yang tempo hari mengembangkan tanaman jarak pagar untuk dikembangkan sebagai bahan bakar alternatif
Ok Pak. Ada saatnya kita serius tapi kadang butuh waktu juga buat becanda
Soal kemerdekaan, saya malah meragukan apakah kita sudah merdeka atau belum. Lha kan proklamasi itu klaim saja? Kita tidak benar-benar menang perang kok. Coba kalau Hiroshima dan Nagasaki nggak dibom, kita masih dijajah.
Hehe. Btw, sekarang nguli di mana?
Robert Manurung :
Kebetulan saja namaku sama dengan pakar energi alternatif dari ITB itu. Selebihnya kami sangat berbeda. Dia ilmuwan benar, sedangkan aku cuma seorang pemulung di ranah ilmu pengetahuan : comot sana sini kemudian diekstrak dan bikin paradigma sendiri hehehe…
Soal bercanda, apakah masih kurang bercanda bangsa ini ? Lihat acara televisi : Tukul jadi tontonan wajib pemulung sampai presiden. Kemudian hampir semua acara lainnya di seluruh stasiun TV diusahakan dan bahkan dipaksakan supaya lucu.
Seminar-seminar yang sukses bukanlah yang membuat pesertanya tambah cerdas atau mendapat pencerahan, tapi yang pembicaranya pandai melawak, sehingga peserta tidak ngantuk atau tertidur.
Uztad atau rohaniawan yang menjadi idola umat bukanlah yang mumpuni ilmu agama dan kadar keimanannya, tapi yang bisa menggelitik selera humor umat atau jemaat.
Rasanya semua bidang kehidupan di negeri tercinta ini telah dirasuki canda. Tanpa terkecuali, yang namanya reformasi dan demokratisasi pun ujung-ujungnya cuma menghasilkan canda. Dan bercanda yang paling kelewatan adalah membiarkan lingkungan dirusak secara sistematis, namun kemudian ketika dilanda banjir dan longsor kita malah menyebutnya fenomena alam atau nasib!
Yang serius di negara ini hanyalah orang-orang yang terjajah, tertindas dan teraniaya. Aku termasuk golongan ini. Bagaimana bisa bercanda kalau rumahnya dikubur lumpur seperti di Sidoarjo ?
Oh ya, sudah sepuluh tahun aku berhenti nguli. Selama itu aku menjalani hibernasi seperti beruang kutub hehehe…
Tapi sejak lima bulan yang lewat aku merintis usaha kecil-kecilan di bidang advertising. Hasilnya tak seberapa, tapi lumayan independen.
Terima kasih!
14 Januari, 2008 di 4:14 pm Wez… Bagus… bagus…
Saya juga miris nih… Melihat bahasa gaulnya anak-anak Indonesia… Sudah banyak yang menyimpang dari kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar (dan yang lebih aneh, mereka itu “BANGGA”!!! :O )
Saya sebenarnya tidak mengerti sih, apa memang dengan bahasa bisa menjajah (memperkosa, atau apalah istilah Mas) rasa cinta terhadap negara. Yang saya tahu, kadar kecintaan anak negeri terhadap bahasa dan budaya mereka sendiri semakin berkurang. Itu saja… Mungkin itukah dampaknya?
RM:
Tentu saja, bahasa bisa menjajah pikiran. Orang Malaysia menyebut ibukota negaranya : ke-el, bukan Kuala Lumpur. Penyebutan itu mengakibatkan “jiwa” melayu kota itu mati pelan-pelan, lalu digantikan oleh “jiwa” western.
Satu contoh lagi, belakangan ini para blogger kita suka memplesetkan nama Malaysia menjadi malingsia– sebuah stereotif baru berlatar belakang kebencian — yang kalau berlanjut akan membuat citra bangsa dan negara jiran itu selamanya akan jelek di mata orang Indonesia.
Terima kasih
Salam Merdeka!
14 Januari, 2008 di 4:20 pm Horas Bung! Selamat datang di blogosphere.
15 Januari, 2008 di 12:40 am @ Martin Manurung
Horas kawan. Terima kasih untuk sambutannya. Aku memang baru saja berkecimpung di blogsphere. Masih aklimatisasi.
22 Januari, 2008 di 8:14 am Jadi lah dirimu sendiri, sebaik-baiknya dirimu. Dan salam kenal
22 Januari, 2008 di 12:50 pm Salam kenal
22 Januari, 2008 di 3:02 pm @ Advokat Listiana
Terima kasih.
Setuju, kita harus menjadi diri sendiri, menjadi yang yang terbaik dari potensi kita masing-masing, dengan satu syarat : menjadi manusia merdeka! Soalnya, maaf, menjadi diri sendiri dan mengembangkan diri secara optimum bagi seorang koruptor sama dengan membudayakan korupsi.